KATEGORI

Minggu, 13 Januari 2013



Budaya permainan anak tradisi sunda telah hampir punah


Budaya itu punya arti  yang luas, saya selaku orang sunda akan di memper sempitnya menjadi  budaya sunda, budaya bermain anak di daerah sunda mulai hampir punah  setelah adanya permainan- permainan yang berbau elektronik , anak- anak sekarang sudah terbius dengan pelbagai aneka permainan yang begitu mahal harganya. Tidak seperti permainan-permainan yang sudah di beri oleh nenek moyang kita.  Yang gratis dan sehat, “eh malah di tinggalkan.”
Ada beberapa permainan ciri khas sunda yang saya masih ingat sampai sekarang. Dan takan ku lupa.  Susumputan kalo diartikan dalam bahasa Indonesia petak umpet, ada juga yang menyebutnya dengan istilah boy-boyan . aturan permainannya memakai pecahan genteng di tumpuk-tumpuk, ada yang jaga dan ada yang bersembunyi. Dari permainan seperti itu kita bisa mengambil hikmahnya. Kita diajarkan untuk bekerjasama dan lebih kreatif. Dulu kita mengenal ada momobilan dalam istilah bahasa indonesianya  mobil-mobilan yang terbuat dari bahan-bahan bekas, seperti kaleng susu, kayu, dan botol air mineral. dengan itu kita menjadi lebih kreatif. gatrik, gatrik adalah permaian yang menggunakan bambu yang dipotong kecil, kemudian disimpan ditanah dan di pukul dengan bambu yang lain. 



jajangkungan istiliah bahasa Indonesia tinggi tinggian  adalah permainan berupa alat yang dibuat dari bambu, yang biasanya panjangnya melebihi tinggi badan kita, diantara buku bambu itu dipasang dua penyangga untuk kita berdiri di atas dua bilah bambu tersebut.
Masih banyak permainan permainan anak cirri khas sunda. Tapi permainan permainan itu yang saya nikmati di masa-masa kecil silam 


Namun sayang anak-anak kecil sekarang, tidak memanfaatkan budaya budaya bermain anak, ciri khas sunda, semenjak adanya permainan-permainan yang berbau elektronik dimulai dari game boy, Plastations(PS) sampe-sampe  dari PS satu sampe PS tiga. Mungkin jika 20 tahun lagi ada PS 10 entahlah. Ada yang lebih baru lagi wahana permainan di internet dijadikan makanan sehari-hari bagi anak-anak di era  sekarang. Anak-anak di era sekarang lebih memilih ke warnet, yang bayar per jam nya tiga ribu,  dari pada kumpul di lapangan sambil bermain Boy boyan, petak umpet  dan lainnya . 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar